Kamis, 09 Oktober 2014

PKKM 5 - 27 September 2014

Kami dikumpulkan di selasar TVST dengan sudah sarapan dan berpakaian rapi. Setelah dimobilisasi ke Ruang 1401, kami diberi kata sambutan oleh Kahim HMME Atmosphaira ITB, Jendr

al M. Reza Robby Nugraha dan diberitahukan latar belakang acara  ini, yakni ketidaktahuan mahasiswa Meteorologi akan macam karir yang akan dibangunnya kelak.

          Dibagi menjadi dua sesi materi.
Sesi materi pertama, diisi oleh Noviyani Ervianti alumni Meteorologi yang kini bekerja di perusahaan Jepang, JICA. Beliau menceritakan pengalaman kerjanya dan menceritakan betapa beruntungnya mahasiswa Meteorologi karena kuantitasnya di Indonesia masih sedikit. Selain itu kita diharapkan meningkatkan motivasi, vision, efforts, spirits, creativity, dan team works.  Kemudian dilanjutkan oleh sesi “Are We Part of Earth Scientist?” oleh Zulva Kriza. Di sini beliau menekankan untuk terus bergerak dan mengikuti dinamika perubahan lingkungan agar terus berkembang dan tidak mati dalam komunitas. Pesan yang saya ingat dari beliau adalah “love what you do, do what you love, and value will follow.”. Jangan  hanya  membandingkan satu dengan yang lain, carilah passion dan ubah perspektif serta kembangkan self marketing.
Yang terakhir alumni Meteorologi 2010, Amelia memberikan materi tentang “Pengalaman Kuliah S1 Meteorologi”. Pengalaman Kak Amel yang ‘terpaksa’ masuk Meteorologi dan baru menemukan keseruannya di tingkat tiga. Pesan dari Kak Amel adalah “begin with the end in mind”.
Setelah diberikan waktu istirahat, sholat, dan makan, kami kembali masuk ke sesi kedua. Sesi kedua ini diisi oleh Jendral dan Jendril 2011 yang akan menceritakan pengalaman KP-nya. Yang pertama adalah Piala Imelda yang berhasil mendirikan Lentera Angin Nusantara yakni pemanfaatan energi angin di Sumba. Ini benar-benar menginspirasi saya, karena selama ini Indonesia dianggap punya potensi besar dalam pemanfaatan energi angin, namun pada praktiknya jarang ada yang berhasil. Keinginannya untuk ikut memajukan Indonesia Timur serta kesadarannya bahwa kita terpaku pada potensi saja namun sistem yang digunakan untuk pemberdayaan energi angin justru tidak berkembang dan lebih rela membeli daripada menciptakan sendiri.


Yang kedua oleh Yovita, Meteorologi 2010 yang menginspirasi dengan pengalaman pertukaran pelajarnya di Nagoya University, Jepang. Kemudian Firman A., Meteorologi 2011 bercerita tentang pengalaman KP-nya di Kementerian ESDM serta kiat-kiat dalam  mengikuti KP. Dengan menemukan potensi dan passion, tanya senior, lulus minimal 100 SKS, konsultasi dengan dosen, menghubungi tempat KP, dan membuat proposal  bila dibutuhkan. Adapun manfaat yang bisa didapat pengalaman kerja, menambah jumlah SKS, aplikasi skill, mengisi waktu luang, koneksi ke dunia kerja, dan latihan self improvement. Yang ketiga Danasla, Meteorologi 2011 mengenai KP di Pertamina Geothermal. Untuk mempersiapkan KP dibutuhkan topik, dosen pembimbing, tempat, dan  proposal. Setelah sesi tanya jawab, kami diperbolehkan pulang.




Yang kedua oleh Yovita, Meteorologi 2010 yang menginspirasi dengan pengalaman pertukaran pelajarnya di Nagoya University, Jepang. Kemudian Firman A., Meteorologi 2011 bercerita tentang pengalaman KP-nya di Kementerian ESDM serta kiat-kiat dalam  mengikuti KP. Dengan menemukan potensi dan passion, tanya senior, lulus minimal 100 SKS, konsultasi dengan dosen, menghubungi tempat KP, dan membuat proposal  bila dibutuhkan. Adapun manfaat yang bisa didapat pengalaman kerja, menambah jumlah SKS, aplikasi skill, mengisi waktu luang, koneksi ke dunia kerja, dan latihan self improvement. Yang ketiga Danasla, Meteorologi 2011 mengenai KP di Pertamina Geothermal. Untuk mempersiapkan KP dibutuhkan topik, dosen pembimbing, tempat, dan  proposal. Setelah sesi tanya jawab, kami diperbolehkan pulang.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar